Orang sedih karena kehilangan seorang kekasih itu biasa (anggapan sebagian orang), untuk saat ini bukan itu yang ingin saya bahas. Setidaknya kesedihan yang tidak berangsur-angsur ini sedang saya rasakan ketika salah satu teman di kampus yang sudah mulai pergi meninggalkan sedikit kehidupan ini. Ingat, kawan bukan kekasih. hehe. Kenapa dibilang sedikit, sebab ini bukan kepergian yang akan terjadi selamanya untuk beralih ke lain dunia, hanya lingkup aktivitas saja.
Sejak masuk sekolah tinggi yang ada di ponorogo ini, kegiatan tambahan diluar jam kuliah yang di jalani adalah bergabung dengan radio komunitas yang ada di kampus. Awal mulanya sich bukan karena menggebu-gebu ingin menjadi seorang penyiar, akan tetapi ingin menggali ilmu di bidang lain yang terkait dengan dunia jurnalistik. Tidak ada basic sama sekali untuk terjun langsung ke dunia broadcasting yang didalamnya membutuhkan kelancaran dalam berbicara hingga sekarangpun masih sering terbata-bata.
Setahun sudah lebih beberapa bulan keberadaan menjadi announcer kampus, terasa ada penambahan pengalaman sampai kejenuhan di ubun-ubun. Wah, what should I do now, buddy? saat ini adalah waktu paling menjemukan beraktivitas menjadi mahasiswa. Hal pertama yang terasa adalah: mulai bosan akan ujian semester entah pertengahan atau akhir, yang bisa-bisa nich. . saya takut kalau skripsi nanti juga lebih menjemukan lagi. hehe. Dan yang kedua terakhirlah tentang aktivitas ekstra ini, tak ada peningkatan khusus seperti awal mula masuk. Makin hari makin menurun saja gaya siaran. Padahal sudah pengen menguasai Air personality (kemampuan menguasai acara) hanya pikiran pesimis muncul dikarenakan sifat bosan yang menghinggapi.
Cerita di atas cuman sebagian little trouble disekeliling, Dan yang menduduki peringkat runner up of trouble ever adalah keluarnya sebagian teman-teman seperjoeangan di radio kampus ini. Sempat tak terbayangkan, satu persatu crew yang pernah hadir mengisi microphone studio sudah tak terdengar suara bising mereka. Diantaranya adalah: Read More »


