Kebingungan yang muncul setelah sekian lama menjadi seorang mahasiswa, loncat sana loncat sini bagai kutu kehilangan sarang ternyaman dengan berbagai ideologi yang masuk kedalam otak. Semakin lama belajar bukannya bertambah pintar malah membingungkan setiap orang yang meminta opini bahkan sampai hati tak merasakan penyesatan yang telah dilontarkan. Apakah kita sudah menjadi bagian dari orang-orang yang mengagungkan akal fikiran tanpa memperdulikan sesuatu yang jauh mudah diterima hati nurani? Qolbu tak lagi mendampingi otak dalam memutuskan masalah maupun membuat keputusan terjernih. Semua dianggap enteng tanpa memerlukan sumber lain sebagai pembanding. Sudah terbilang cukup anak bangsa yang terlahir tak lagi dengan kebanggaan ‘Inilah prestasi saya’ tapi ‘Inilah fanatik saya’ membenarkan golongan menyalahkan keadaan keluarga yang jelas-jelas percaya apa yang dipelajari baik. Bukan ilmu meninggikan kelompok yang didampa orang tua, cukuplah menjadi dan pengamalan di atas panggung pengalaman yang menjadi patokan untuk melangkah lebih jauh.
Jika bumi terus berotasi melakukan kewajiban mutlak dan manusia terus berorasi menuntuk hak asasi telak, semua akan melihat titik temu antara Yin dan Yang sebagai contoh inilah apa yang kita lihat, apa yang kita ketahui, apa yang kita mengerti, tapi bukan apa yang selanjutnya dilakukan agar keselarasan hidup antara hunian dan penghuni tetap berbagi.
Thinking



Jadi mahasiswa harus bisa berguna bagi masyarakat.
#SayaCumaAsalNgomong
Anda benar Asop, itu tidak asal ngomong. Tapi memang dari lubuk hati terdalam.
#SemogaTidakAsalNebak
berat ini bahasannya, ini bagian dari sekripsinya ya mas lambang? bagian pembukaannya kah?
#soktau
Bukan mbak. masa’ bahasa skripsi kayak bahasa prosa dan saudara-saudaranya githu. hehe.
ini sekedar curhat aje, ya itung-itung update blog. hehe. #lama Begete.
ndi kok gag update neh
padahal cuma lewat ne bisa ketemu kamu :’(
mamelboongan.com
preketek. sek min, belum ada inspirasi maneh, hehe.
. thanks nice info.