Sebenarnya hal ini bisa dikatakan promo, kalo launching ya bukan, masalahnya bukan media audio yang baru untuk masyarakat karesidenan Madiun (We call by Kota Gadis – Perdagangan dan industri). Ya tak apalah, sebab pengen aja nulis sesuatu yang berkaitan tentang tempat kerja part-time saya sekarang.
Radio C Madiun, dalam hati atau pikiran kamu pasti ada yang bertanya-tanya, apa ini? nggak to, kalo nggak berarti saya salah tebak. Atau mungkin mempermasalahkan peletakan nama radio tersebut. Kenapa nggak C Radio aja ketimbang Radio C? Enakan dengernya C Radio dech, semisal radio yang ada di ibukota sana dengan tag-line “100% musik indonesia”, yakni I Radio ato radio miliknya ardan manajement, yakni B Radio. Kalau masalah penamaan mah saya nggak bisa ikut campur. Itu urusan Owner ato sesepuh radio ini dulu gimana. Ya ya ya, serumit itukah fikiran kalian mempermasalahkan itu, saya yakin juga tidak. Cuman saya aja yang heboh. Doh.
Radio ini merupakan radio kedua setelah saya resign dari radio yang ada di kampus dengan perbedaan yang sangat mencolok mulai dari tempat kerja saya dahulu yang masih menjadi komunitas beralih ke tempat yang sudah komersil sejak orok. Pressure pun tambah dan segalannya juga ngikut tambah (hanya saja mukaku kok nggak tambah gantengan ya, dikit aja masa’ pelit, halah). Memang di tempat kerja sekarang membuat saya lebih improve skill & time manajement yang pas agar tidak mengganggu jadwal perkuliahan. Alhamdulillah, seluruh crew baek-baek, jadi care ke anggota lain yang masih sekolah.
Bertempatkan di Jl. Cemara no. 216 Sangen Madiun. Masih bingung? ya tepatnya selatan pas pengisian bengsin di daerah sangen atau kalau bener-bener kurang jelas, tanyalah pada orang yang kamu percaya dan tau dimana radio ini berada kawan. Sebelum “Radio C“, nama di udara adalah “Radio Cemara” dan sebab perubahan nama tersebut akhirnya merubah segala yang ada disini, mulai dari format radio, genre lagu yang mulai mengadaptasi Manca & Domestik, dan target kalangan pendengar menengah ke atas.
Apalagi ya, ya ini dulu aja. Ternyata saya nggak pandai mendiskripsikan sesuatu. Susah banget. Langsung chekidot gambarnya aja Dap.
Ya beginilah keadaan studio saya sekarang. (Lho kok ada bantal segala?) Sebab diantara barang elektronik di studio, hanya bantal-lah yang mengerti saya banget. Bantal di radio tu sesuatu banget. Saya sangat sayang dia. Dia faham kalo kita (crew) lagi capek ato rebahan. Dia-lah yang pengertian, tak tergantikan. hehe.
















Berkomunikasi, memang mudah dan terkadang memang begitu terasa sulit. Lewat komunikasi pula manusia mengerti satu sama lain. Aktivitas yang satu ini memang tidak pernah mengenal istirahat, coba perhatikan, pernahkan sehari saja kita tidak mengeluarkan sepatah dua (patah) kata dari mulut kita? (kecuali anda merupakan orang yang pernah menjalani ritual pertapaan dalam hutan berhari-hari sendirian, ya mungkin ujung-ujungnya sumpah serapah keluar sehabis digigit nyamuk hutan segedhe bagong. halah) Seandainya itu bisa dilakukan secara kontinuitas, pastilah kita dapat menghemat pendapatan dosa dengan menjaga lidah dan mulut kita ini. Untuk kadar orang yang berpekerjaan normal (normal merapatkan mulut), contohlah kantoran bagian accounting atau apalah yang penting melototin komputer, sudah tidak betah untuk terus-terusan menahan ucap apabila datang kesempatan ingin bercengkrama yang tumben teman sekantor lewat lalu-lalang. Tentunya bisa di bayangkan orang yang punya hobi pemborosan kata (NB: cerewet) dengan pekerjaan yang sesuai hobi mereka = penyiar radio, saya yakin masih ada peluang untuk korupsi kalimat di tiap sela-sela mereka berbicara jika kesadaran muncul dan terealisasi. Kalau korupsi kata mah, saya yakin tidak masalah. Bahkan orang yang ada di sekeliling kita biasanya akan sedikit lega dengan mulai menipisnya polusi suara yang sering organ lidah ciptakan, hehe.
Selain sekedar curcol diatas, kali ini pengen sedikit berbagi sesuatu yang semoga bisa dibilang bermanfaat bagi yang memerlukan. Soalnya bukan tak sengaja kebiasaan membaca buku out of the box (unformal) buat menghindari rasa jenuh berhari-hari sebab menghadapi assignment makalah yang berjubel entah berarah kemana, seakan mata ini butuh penyegaran baru dengan bacaan-bacaan 
