Belajar untuk membuat orang lain merasa bahagia dengan kehadiran kita memang terkadang menyenangkan dan memilukan. Menyenangkan jika rencana kita untuk membuat orang lain tersebut tersenyum berhasil tanpa harus ada imbalan materi, sebab kepuasan batin sudah cukup kita dapat sebagai imbalan yang pas. Memilukan jikalau dengan sekuat tenaga dan fikiran kita curahkan untuk membuat orang di sekitar kita bisa tersenyum bahagia, ternyata hasilnya tidak, kita gagal melakukannya, sungguh serasa hari itu bagaikan hari akhir kita hidup sebagai manusia. Pengen segera kiamat aja. Pilu.
Ya begitulah, tersenyum, bagi orang yang kurang terbiasa melakukannya memang sangat susah. Jika kamu termasuk orang yang sudah punya kebiasaan “nyengar-nyengir sendiri” bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan kamu dengan kata lain, sehari nggak senyum. . apakata dunia! such there’s a missing part, maka beruntunglah kamu. Seperti kata guru ngaji bilang gini: (once upon a time) SANTRIKU. . Senyum adalah ibadah. . maka tersenyumlah. .” Dan di hari itu juga sehabis denger kata pak kyai sejumlah anak pondok pun mengupayakan menarik keatas tepi bibirnya dan menunjukkan gigi putih kekuningan mereka biar bisa senyum seindah mungkin karena pengen dapet pahala, khan ibadah bray. Alhasil, mereka bisa melakukan himbauan sesepuh di hari tersebut. Esok harinya lagi, paling udah lupa apa kata pak kyai. Doh.
Sore ini gara-gara sebuah foto (tiba-tiba jatuh dari langit – Gedubrax! – Ngayal abis) yang saya dapat sewaktu surfing, saya jadi kepengen bisa senyum selebar-lebarnya dan seluas-luasnya agar orang lain tau, saya bisa senyum. Halah. Sebab susahnya minta ampun untuk senyum sewaktu sedang marahan Gan.
Dan ini fotonya (teteteeeeeeeeet!):

|Mungkin lagi teringat lagunya dewa19 yang judulnya "hadapi dengan senyuman", dalam mengamankan sebuah unjuk rasa (maaf, apasih.com gak tau dimana dan kapan), dan terlihat situasi sedang genting2nya.. disaat itu pula terlihat seorang warga sedang mengacung-acungkan goloknya kepada seorang anggota polisi, bukannya menghindar. pak polisi ini malah membalasnya dengan senyuman... kereeeen pak. tak selamanya kekerasan dibalas kekerasan| itulah sepenggal kalimat yang menerangkan foto ini.




Hari ini sudah banyak yang dari sebagian umat muslim yang menjalankan sholat idul Adha di pagi hari, dari sejak tadi malampun suara gemuruh takbir terdengar di sebagian masjid dan mushola. Dan sebagian yang lain, ada yang ingin merayakan lebaran Qurban untuk esok hari. Maka dari itu, masih ada yang menjalankan puasa sunnah Arofah sembari menunggu hari besar khan tiba. Saya tidak bilang ini pecah atau perpecahan. Inilah umat islam, kita tetap satu. Menghormati satu sama lain mengenai perbedaan Madzhab dan bertoleransi bagi mereka yang meyakini kepercayaan tersebut. (Setidaknya pemotongan kambing & sapi berlangsung 2 hari, hehe. .) 
Pepatah arab berbunyi; “Al mahabbatul Ula la tunsa fiha” yang artinya nich – Cinta pada pandangan pertama tak akan terlupakan.
Bulan puasa telah tiba, tak terasa sudah memasuki hari ke-5 di ramadhan kali ini sejak tanggal 11 agustus 2010. Sehari sebelum puasa tiba, hawa berbuka sudah tercium di sepanjang jalan antara ponorogo madiun. Banyak penjual makanan dan jajanan pasar di pinggir jalan raya dan ramainya pedagang kaki lima. Tarawih pertama serasa nikmat walaupun tidak dilaksanakan di mushola sebelah rumah seperti ramadhan-ramadhan sebelumnya. Tidak tau kenapa, ramadhan kali benar-benar terasa berbeda. Yang jelas-jelas mencolok adalah tidak hadirnya saya di tengah keluarga. Ada perasaan bosan ketika berlama-lama di dalam rumah (Datang-Cuci baju-Setrika-Pergi), sudah tentu kamar pribadi seperti mengusirku untuk sekedar merebahkan badan di atas kasur berbusa. Sekali lagi, ketenangan diri terganggu oleh perasaan. Ya begini jadinya menjadi seorang yang mulai bosan dengan kegiatan rumah. Hidup itu pilihan, saya memilih untuk jadi orang lapangan dengan kesibukan yang saya ciptakan dan selesaikan sendiri.