Articles

Filosofi bambu

In Motivasion on January 6, 2009 by Lambang Tagged: , , , , , , , ,

6250_1030695947459_1827192228_64568_1917179_n

Pembaca, berguru tidaklah hanya pada dosen di ruang kuliah. Tapi, juga pada alam. Alam yang menjadi ruang seluruh denyut kehidupan ini bisa menjadi mahaguru yang baik.
Banyak hal yang bisa kita pelajari dari alam. Kita bisa belajar banyak tentang filosofi hidup. Bahkan, apa yang tidak ada dalam buku dan diktat pelajaran, bisa kita dapatkan dalam buku raksasa bernama alam.
Nah, kali ini, saya ingin mengajak pembaca untuk belajar dari pohon bambu. Alkisah, ada seorang pemuda yang bertekad menjadi seorang pendekar sakti. Dia mengembara untuk mencari seorang guru terbaik yang bisa mengajarinya ilmu bela diri. Setelah ketemu, dia berusaha keras agar guru sakti itu mau menerimanya menjadi muridnya. Namun, ada satu syarat yang diminta guru itu, yakni si murid harus mengikuti pelajaran apa pun yang diberikan. Pemuda itu menyanggupinya.
Guru itu menyuruh si pemuda untuk menimba air, mencuci baju, dan memanjat pohon untuk mencari sarang burung dan telurnya. Itu harus dilakukan setiap hari tanpa absen satu kali pun. Lama kelamaan, selama dua tahun, pemuda itu mulai gelisah. Kebosanan mulai merayap di hatinya.
Dia merasa dikerjain oleh gurunya. Pada tahun ketiga, kebosanan seakan memuncak dan membuatnya berani mengungkapkan protes pada gurunya. Dia siap mengundurkan diri dari padepokan. Sang guru tahu benar isi hati pemuda itu.
Diajaknya pemuda itu ke sebuah taman penuh dengan tanaman bambu. Sang guru menyuruh pemuda itu mencabut satu pohon bambu saja. Pemuda itu mencoba dan tidak berhasil. Ia mencobanya berkali-kali dan kegagalan yang sama terulang terus.
Guru itu mulai bercerita soal pohon bambu. Bambu, katanya, adalah tanaman yang unik. Waktu ditanam, kurang lebih empat tahun pertama, bambu belum menampakkan pertumbuhannya yang penting. Tapi, pada saat itulah, akar-akar bambu tumbuh subur.
Pada tahun kelima, setelah pertumbuhan akarnya selesai, barulah batang bambu akan muncul. Tubuh, menjulang keatas langit. “Itulah yang sedang kamu pelajari. Belajarlah dari pohon bambu ini. Kalau kamu mau menjadi orang hebat dan besar, kamu harus membangun pondasinya lebih dulu. Itulah yang sedang saya latihkan padamu selama tiga tahun ini,” kata guru itu.

Tekun dan gigih

Pemuda itu mulai menyadari maksud gurunya. Dia malu dan melanjutkan pelajaran beladirinya. Kita perlu belajar seperti pemuda itu. Untuk menjadi baik dan memperoleh kesuksesan, tidak ada jalan lain selain ketekunan dan kegigihan dalam berusaha. Namun, orang cenderung malas berproses, apalagi proses itu sarat dengan kerja keras, keringat, dan penderitaan. Filosofi bambu ini mengajarkan kita untuk setia menanam dan merawat.
Memang hasilnya tidak akan kelihatan. Tetapi, selama kita terus maju dengan gigih dan berusaha, pada saatnya kita akan memetik hasilnya. Persis seperti suatu kata bijak, orang yang pergi ke ladang dengan cucuran air mata akan pulang bersama berkas panennya dengan sorak-soray. Intinya, tidak ada kesuksesan sejati yang gratis.
Pelajaran kedua dari bambu adalah soal karakter dan cara hidupnya. Bambu adalah satu-satunya tanaman di Asia Pasifik yang fungsinya sangat banyak. Iapun bisa hidup di alam dengan ragam cuaca, dari tropis ke subtropics. Dari klasifikasinya, bambu tergolong dalam tanaman rumput. Tapi, bambu adalah rumput spektakuler.
Tingginya terentang dari 30 cm sampai 30 meter. Ia sebuah tanaman rumput yang unik. Nah, inilah pelajarannya. Meskipun berlatar tanaman rumput, bambu menjadi beda lantaran karakternya. Kegunaan dan caranya bambu mengekspresikan dirinya menjadi bambu sebagai rumput yang berbeda.
Dalam kehidupan pun, latar belakang kita sebenarnya bukanlah penentu. Tetapi, bagaimana kita berupaya mengekspresikan potensi diri, tidak peduli latar belakang yang ada. Itulah yang akhirnya membuat kita menjadi pribadi yang luar biasa.
Filosofi bambu lainnya adalah soal kegigihan dan keinginan untuk hidup dalam situasi sulit sekalipun. Saat Hiroshima dan Nagasaki dihujani bom atom, hampir seluruh kehidupan di wilayah itu hancur, semua bangunan rata dengan tanah. Tapi, tidak lama, ada jenis makhluk yang kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Tak lain adalah bambu.

Bankit dan Maju

Hal ini mengajari kita untuk tidak terkungkung oleh masa lalu, kegagalan, tetapi segera bangkit berusaha untuk maju. Tidak berlama-lama mengutuki kegelapan, tetapi segera bangkit untuk menyalakan pelita.
Soal ini, bisa belajar dari petinju legendaries George Foreman. Foreman kalah telak oleh Muhammad Ali pada 1974 di Kinshasa, Zaire. Ini adalah peristiwa mengejutkan sekaligus memalukan. Foreman yang sebelumnya dielu-elukan bakal di atas angin, justru kalah.
Banyak orang termasuk pendukungnya ikut mencaci makinya. Dunia pun segera melupakanya. Tapi, Foreman tidak mau dibekap oleh kegagalan itu. Dia mau menunjukknan sebagai pemenang sejati. Dia banting stir menjadi wirausahawan.
Bahkan pada 1994 dia kembali naik ring dan mengalahkan Michael Moorer. Kemenangan ini menjadikan Foreman sebagai petinju tertua yang memenangkan sabuk tinju kelas berat. Itulah ‘karakter bambu’ pada diri Foreman.
Terakhir, bambu juga mengajari kita soal fleksibilitas. Jarang kita menyaksikan bambu roboh. Di tengah tumbangnya pohon-pohon lain akibat serangan angin puting beliung. Bambu tetap kokoh bergeming. Selain karena akarnya yang kuat, juga batangnya yang bergoyang bersama angin.
Akibatnya, dalam cuaca dan angina kencang, pohon bambu bergoyang dan mengeluarkan desis suara, mengikuti irama angin. Tapi, tidak pernah tumbang. Padahal pohon lain dengan batang lebih besar justru tidak kuat menghadapi ganasnya angin.
Inilah yang saya sebut fleksibilitas. Pelajaranya kita perlu fleksibel dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Dengan begitu, kita tetap akan hidup dan berjaya. Saatnya belajar dari pohon bambu.
Wacana di atas, diambil dari sebuah sobekan Koran yang mana terjadi pada waktu saya masih menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas di madiun. Tak sengaja juga, sewaktu ada kegiatan try-out dan hasilnya membuat keputusasaan di dalam diri, saya menemukan artikel tentang ‘MOTIVASI’ ini (bambu) pada saat akan sarapan pagi di sebuah warung nasi pecel (biasa untuk tongkrongan anak sekolahan) dan sambil menunggu pesanan, kebiasaan jahil saya untuk membaca Koran sobekan yang sudah terbuang buat bungkus nasi. Dan tatapan saya terpaku pada sebuah artikel kecil tentang ‘filosofi bambu’ yang tertulis di kiri atas Edisi Minggu Bisnis Indonesia-11 Maret 2007 di bawahnya juga tertulis oleh penulis Anthony Dio Martin. Dan isi di dalamnya cocok dengan kondisi yang saya alami karena suasana hati benar-benar membutuhkan sebuah inspirasi pendukung untuk tetap berusaha walaupun sering jatuh dalam kegagalan. Dan sampai sekarang, potongan Koran itu saya abadikan sebab merupakan memory di waktu haus akan support dan dukungan.

Thank’s so much for the write! That’s very helpful.

6 Responses to “Filosofi bambu”

  1. Smoga aku bisa seperti bambu…..🙂

    Smangat kang!

  2. i love bambu:mrgreen:

  3. weeee baru tau aku… hehehehe…
    salam kenal kang…

  4. like this…….
    belajar pada kehidupan….
    Kalo saya dan teman2 menyebutnya
    “University of life”

  5. Mari belajar dari filosofi bambu…
    Your past is not the same with your future!
    Maju terus dan sukses selalu yach… =)

    Life to the FULLEST!

    Adrian Luis
    Life to The Fullest Coach & Trainer Indonesia
    Senior Trainer HR Excellency

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: