Articles

Orang tua protektif

In Opinion on April 21, 2010 by Lambang Tagged: , , , , , , , , ,

Orang tua dalam pengertian orang yang sudah tua dalam umurnya, terlihat jelas dari fisik dan sedikit demi sedikit mulai menghilang sisa-sisa kemudaannya. Tapi ada sisi lain yang masih meragukan, yakni tentang kedewasaan dan pemikiran. Sering kita jumpai orang dewasa di luar sana dari segi penampilan sich 50’an, akan tetapi dalam tingkah laku layak di sangka 20’an.

Sedangkan protektif, terdiri kata dasar ‘protect’ yang bermakna perlindungan. Dengan kata lain, jika kesemua kata di gabungkan akan timbul arti se-simple: “Pengawasan/pemantauan/perhatian orang tua terhadap anak”.

Opini setiap orang akan hal ini memang berbeda-beda, mulai dari generasi muda hingga orang yang sudah dewasa. Untuk orang tua yang termasuk layak diberi label ‘dewasa’, pengertian yang muncul akan sedikit lebih baik dengan alasan menjurus ke arah positif, seperti:

  1. – Perlindungan yang baik dari ortu kepada si buah hati
  2. – Kasih sayang yang terealisasi dari ortu
  3. – Menjaga anak dari setiap kemungkinan yang benar-benar membahayakan
  4. – De el el.

Nah, kenapa hal yang dipikirkan dan di sangka selalu baik adanya atau cuman sekedar terlihat begitu baik?

Alasannya adalah karena orang tua diposisikan sebagai pelaku utana sedangkan anak menjadi si korban. Mereka kebanyakan tidak menyadari seberapa sering kesalahan yang telah di lakukan hanya dengan membanggakan rangkaian kata “proteksi untuk anak”. Salah seorang guru MI sekaligus pengajar pramuka pernah mengatakan kepada saya (kurang lebih seperti ini):

“Semakin anak di kekang, maka semakin besar pula rasa penasaran dia akan sesuatu dan itu berakibat si anak akan melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan jawaban kenapa tidak boleh melakukan hal tersebut”.

Mendengar kalimat itu, memori otak ini kembali memberikan sinyal sebuah kenangan masa lalu semasa kecil dulu ketika sempat ada beberapa hal yang dilarang untuk diperbuat, antara lain:

– Dilarang pacaran

– Dilarang merokok

– Dilarang bergaul sama teman-teman yang nakal

– Dilarang jajan sembarangan

– Di larang nyontek waktu ujian (ini mah, gurupun juga melarang, hehe. .)

– De el el lagi.

Walau ada peringatan, tetep dach yang namanya anak-anak, di kerjakan aja padahal ‘warning’ sudah muncul sejak lama. Melihat contoh larangan-larangan diatas, sebenarnya bagus untuk masa depan hanya cara penyampaian setidaknya bisa diperjelas dengan alasan-alasan logis sekaligus statement yang tidak mengundang rasa penasaran biar si kecil bisa paham betul mana yang boleh di-. . dan tidak boleh di-. ., dengan kata lain ‘PUAS”.

Seandainnya peristiwa ini di kaitkan dengan dunia akting, diibaratkan anak-anak berperan sebagai pemain sinetron yang di atur alur ceritannya oleh ortu sebagai sutradara tunggal. Sang aktor maupun aktris bisa menjadi tokoh yang berbudi baik, tokoh jahat, atau tokoh yang biasa-biasa saja tergantung bagaimana sutradara menentukan plot yang pas untuk mereka.

Disini sesuatu yang tidak bisa di pungkiri adalah orang tua lebih punya banyak hak mulai dari menasehati, melarang, mengarahkan, dan contoh lain berkaitan dengan hak sedangkan anak lebih banyak kewajiban berupa patuh, mendengarkan, melaksanakan sesuatu dari apa yang di perintahkan.

Dalam periode umur seorang anak, sweet seventeen adalah yang paling di khawatirkan oleh sebagian besar orang tua. Masa pubertas di mulai saat itu juga di usia 17 tahun di tengah-tengah pendidikan formal sekolah menengah atas pada umumnya. Proteksi mulai terasa ketika kata “children” berubah menjadi “adulf”, apalagi yang mempunyai anak perempuan, setiap gerak-gerik dan tingkah laku harus di pantau dari mulai bangun tidur sampai tertidur kembali. Seperti kebanyakan pemberitaan di media, semua mensoroti tingkah laku anak perempuan yang sudah mulai macam-macam. Ada yang MBA (married because accident) atau parahnya jadi ayam abu-abu (itutu. . saudaranya ayam kampus, tau khan!). Padahal belum juga kelar sekolah, perut udah buncit duluan. Sama banyaknya untuk kalangan laki-laki yang sudah mulai mengenal minuman keras plus narkoba tanpa menyadari efek yang  buruk dan merasa menjadi generasi muda yang merugi.

Dua peristiwa diatas yang sebagian besar di khawatirkan setiap orang tua dan masih banyak kejadian lainnya yang dijadikan patokan ayah ibu kepada anak-anak agar tidak terjerumus ke jalan yang sesat. Jadi, apakah salah jikalau orang tua menerapkan “sistem security” terhadap si buah hati?

“saya sich setuju-setuju aja, wajarlah yang namanya orang tua sendiri, tapi kadang yang ndak begitu menyenangkan jika perhatian yang di berikan terasa berlebihan karena kita akan menganggapnya sebagai bentuk pengekangan. Ya setidaknya perlu ada komunikasi yang terjalin antara dua belah pihak agar tidak terjadi salah paham, orang tua bisa menikmati dan anak juga bisa menghargai”.

Pendapat sendiri nich, hehe.

16 Responses to “Orang tua protektif”

  1. iyaa nh smoga ke depannya kejadian2 kyk gini jumlahnya menurun yaa
    demi bangsa indonesia jg😀
    yg penting koordinasi yg baek antara ortu sm anak😀

  2. sing penting ora di larang nge-blog😀

  3. Pada dasarnya, larangan orang tua lebih banyak yang positif. Toh, itu juga demi kita sebagai anak.
    Over protective iya, tapi mereka sangat wajar untuk khawatir..🙂

    • Intinya khan tetep sewajarnya ya mbak! Protective tapi jangan over-over. . Tapi kalau ndak nyadar udah ngelaku’in over, ya berabe dah hasilnya.

  4. kita harus memberi kebebasan yang terkendali

  5. Biarkan saja orang tua menerepkan peraturan yang strict ke anaknya. Anak2 muda sudah sering menggembar-gemborkan “Ayah/ibu coba mengerti aku”, ato “ini beda generasi!”. Sekarang giliran anak yang mencoba mengerti bagaimana sayangnya orang tua kepadanya, yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya.🙂

    • iya bos, sering sekali dari anak-anak sendiri kurang puas dengan rasa kasih sayang yang di berikan orang tua kepadanya. Atau nggak salah menanggapi rasa kasih sayang yang di berikan seolah-olah menjadi sesuatu yang menjengkelkan pada kita.

  6. satu hal, orang tua seperti itu karena mereka sudah pernah melalui masa seperti kita, sementara kita belum pernah merasakan menjadi orang tua. artinya mereka sudah tau hal2 apa saja yg bisa saja terjadi pada anaknya di setiap rentang usianya.
    suatu saat, kita akan mengerti alasan orang tua kita melakukan hal tersebut, jika kita pun sudah menjadi orang tua bagi anak2 kita🙂

    • ya itu mbak illa, karena kurang sabarnya kita menanti waktu kapan menjadi orang tua itu akan tiba, kita sebagai anak sering menerjemahkannya secara instan tanpa adanya proses yang berjalan. jadi belum merasakan lika-likunya perjalanan hidup ini secara utuh, itu kenapa membuat kita sering menyepelekan nasihat ortu.

  7. herlambang….. hayoo.. ojo pacaran!

  8. yupp..thanks for sharing informasi nya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: