Articles

Little Quotes in Ramadhan

In Opinion on August 15, 2010 by Lambang Tagged: ,

Bulan puasa telah tiba, tak terasa sudah memasuki hari ke-5 di ramadhan kali ini sejak tanggal 11 agustus 2010. Sehari sebelum puasa tiba, hawa berbuka sudah tercium di sepanjang jalan antara ponorogo madiun. Banyak penjual makanan dan jajanan pasar di pinggir jalan raya dan ramainya pedagang kaki lima. Tarawih pertama serasa nikmat walaupun tidak dilaksanakan di mushola sebelah rumah seperti ramadhan-ramadhan sebelumnya. Tidak tau kenapa, ramadhan kali benar-benar terasa berbeda. Yang jelas-jelas mencolok adalah tidak hadirnya saya di tengah keluarga. Ada perasaan bosan ketika berlama-lama di dalam rumah (Datang-Cuci baju-Setrika-Pergi), sudah tentu kamar pribadi seperti mengusirku untuk sekedar merebahkan badan di atas kasur berbusa.  Sekali lagi, ketenangan diri terganggu oleh perasaan. Ya begini jadinya menjadi seorang yang mulai bosan dengan kegiatan rumah. Hidup itu pilihan, saya memilih untuk jadi orang lapangan dengan kesibukan yang saya ciptakan dan selesaikan sendiri.

Ramadhan di dua tempat menimbulkan suasana yang berbeda pula. Ketika pulang ke madiun, sedikit suasana metropolis mulai terasa. Entah apa yang menyebabkan ini terjadi. Dan saya mulai meng-iya-khan bahwa keadaan seperti ini di karenakan madiun memang kota GADIS (perdagangan dan industri). Tak ada yang berubah, di bulan suci ini ternyata bisnis tetap jalan dan enterpreneur semakin bertambah. Konsis dengan perdagangan.

Kembali ke ponorogo, terkenal dengan kota santri (selain banyuwangi, dll). Perihal religi dan keagamaan mulai terasa, mengingat banyaknya pondok pesantren di daerah ini. Pondok gontor dengan kemodernannya, Mayak yang semi-salaf, Ar-Risalah, Wali songo, dan pondok-pondok pengkaji keislaman menjadikan hawa keteduhan hati bagi para pengunjungnya. Melihat generasi muda memakai peci, mengaitkan sarung pengganti celana, berkoko, dan menempelkan ‘kitab kuning’ di dada mereka, dan mengarahkan langkahnya ke surau tempat mengkaji isi. Sungguh, saya rasa ini pemandangan yang elok yang perlu dipertahankan.

Saya tidak mengatakan di kota sendiri tidak ada pesantren. Disana juga terdapat beberapa pondok tapi tidak sebanyak yang ada di kota reyog ini. Kemudian mulailah pengandaian: Semoga kelak Madiun mulai merambah khazanah keislaman dengan ada dan tanpa label kota gadis. Ramadhan dimana-mana tentulah esensinya sama. Tempat tidak menjadi pembeda di Syahru Shiyam. Dan inilah waktu yang tepat untuk mulai mendekatkan diri kepada-Nya. Senang rasanya, masih di beri kesempatan bertemu bulan suci ini. Lakukan resolusi terbaik sebagai pengganti amal ramadhan lalu yang belum terlaksana dan tanam perbuatan baik di ladang agar kelak waktu panen tiba, kita bisa merasakan hasilnya.

Ma’afkan segala kesalahan yang pernah saya perbuat baik sengaja maupun tidak.

3 Responses to “Little Quotes in Ramadhan”

  1. gek lek dolan nek Ar Risalah, ngidul sithik teko umahku…
    heheheh

    Aq juga mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa, maaf kan segala kesalahan dan kekhilafanku…
    semoga semua amal ibadah kita diterima Allah…
    amien….

    • InsyaAllah mbak. .

      saya juga ucapkan mohon ma’af lahir dan batin terhadap sampean atas segala kesalahan yang pernah terlaksana.
      Mohon di ma’afkan ya mbak. . Ok Ok. .
      semoga amal anda di bulan ini di terima juga disisi-Nya. .
      Amien. .

  2. . Tak ada yang berubah, di bulan suci ini ternyata bisnis tetap jalan dan enterpreneur semakin bertambah. Konsis dengan perdagangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: