Photos

Foto ini diambil saat saya mengikuti perkuliahan di salah satu ruangan kampus. Ternyata anggapan selama ini benar, bahwa tempat yang paling nyaman untuk rehat dan tidur siang adalah kelas. Gimana tidak, gaya ceramah dosen yang (sebagian) luar biasa itu (mempertahankan metode lama) bak suara lembut musik jazz membawa penikmatnya benar-benar serasa dinina bobo’kan. Saya menganggap tulisan diatas merupakan wujud dari curahan isi hati sekaligus kepuasan atas jasa yang di berikan dosen kepada mahasiswa yang merasa kantuk tak tertahankan, mengambil inisiatif untuk mengambil stepo (penghampus tinta hitam) dan mengabadikan moment tersebut dengan menulis di kursi depannya. Apakah anda salah satu yang pernah merasakan: “Dosen koe pengantar tidor?”

 

Apa maksud yang tersirat dari foto tersebut? Tak ada, cuman saja selagi kita menunggu dosen datang, kutemukan kardus garbage (tempat pembuangan sampah) yang bertuliskan dua kata itu, kusandingkan dengan temen yang sedang merokok sampil pencet hape. Alhasil, mereka berdua sangat serasi. Cie cie cie. .

 

Jangan taruh kunci motor sembarangan. Cukup jelas maksudnya.

Memanfaatkan kamera hape, itu aja.

Tagged: , , , on July 11, 2011 by Lambang

5 Comments

Quotes

Thinking

Kebingungan yang muncul setelah sekian lama menjadi seorang mahasiswa, loncat sana loncat sini bagai kutu kehilangan sarang ternyaman dengan berbagai ideologi yang masuk kedalam otak. Semakin lama belajar bukannya bertambah pintar malah membingungkan setiap orang yang meminta opini bahkan sampai hati tak merasakan penyesatan yang telah dilontarkan. Apakah kita sudah menjadi bagian dari orang-orang yang mengagungkan akal fikiran tanpa memperdulikan sesuatu yang jauh mudah diterima hati nurani? Qolbu tak lagi mendampingi otak dalam memutuskan masalah maupun membuat keputusan terjernih. Semua dianggap enteng tanpa memerlukan sumber lain sebagai pembanding. Sudah terbilang cukup anak bangsa yang terlahir tak lagi dengan kebanggaan ‘Inilah prestasi saya’ tapi ‘Inilah fanatik saya’ membenarkan golongan menyalahkan keadaan keluarga yang jelas-jelas percaya apa yang dipelajari baik. Bukan ilmu meninggikan kelompok yang didampa orang tua, cukuplah menjadi  dan pengamalan di atas panggung pengalaman yang menjadi patokan untuk melangkah lebih jauh.

Jika bumi terus berotasi melakukan kewajiban mutlak dan manusia terus berorasi menuntuk hak asasi telak, semua akan melihat titik temu antara Yin dan Yang sebagai contoh inilah apa yang kita lihat, apa yang kita ketahui, apa yang kita mengerti, tapi bukan apa yang selanjutnya dilakukan agar keselarasan hidup antara hunian dan penghuni tetap berbagi.

Thinking

Posted June 7, 2011 by Lambang

Articles

Bahasa tutur, bahasa tulis, tetep beda

In Opinion on May 11, 2011 by Lambang Tagged: , , ,

Saya nulis ini sambil bersin-bersin ndak karuan, habis kehujanan sepulang nikahan di tempat temen (yang married temen ane, not me). Nah, di malam yang suram ini, yang besoknya masih UTS kampus & nggak niat belajar, kepikiran secara mendadak buat ngereview sebuah buku yang habis tak beli kemaren-kemaren seharga Rp. 5.000,- jatah diskon di acara bookfair di ponorogo. Awal mula ndak ada niatan sama sekali buat nge-beli buku, tapi ya mumpung disana coba belilah mumpung ada duit (Rp. 10.000 = bengsin 1 liter + 1 buku diskon, halah). Jelas banget to, saya ndak akan berani ngajak temen cewek dengan harta warisan segedhe githu. Makanya, tak pilih ngajak temen cowok kampus sesama pendatang dari luar kota senasib sepenanggungan yang mana jatah makan malam waktu itu kita kumpulkan dari kantong dompet bersama. Mengharukan.

Saya lanjutkan inti perbincangan kita om, mengenai review buku. Jadi gini, diantara serakan buku seharga 5 juta kurangi nol 3 itu mata saya terperanjat pada buku sampul biru depan belakang yang ada gambar mic-mic githu plus rambut cewek bediri kayak kena setrum atau lebih tepatnya setruk, nah, kuraba dia dan kubaca bagian belakang yang jelas menerangkan sang penulis. Tercantum Mas Lus, seorang penyiar dan music director at radio SK (suara kejayaan) 101,6 FM, sebagai pengarang tunggal sebuah buku berjudul ‘Kompilasi Humor Radio’. Kenapa saya tertarik dengan buku-buku berbau announcer? tak ada alasan lain selain harganya yang pas 5 ribuan tadi, juga murah meriah & agag berbobot (teeeet, beneran?). Isinya dibagi menjadi beberapa bagian cerita singkat, seperti ini:

Salah seorang selebritis yang sedang naik pamornya diwawancarai oleh salah satu media hiburan ibukota.

Wartawan: Sebagai seorang selebritis, apa sih kiat sukses Anda?

Selebritis: Well, saya try untuk disiplin. Because, it’s very important. So, buat saya that’s something special yang perlu dilakukan bagi seorang yang ingin sukses. Every morning, saya sport dan juga berusaha well information.

Wartawan: Lalu bagaimana Anda mempertahankan kesuksesan?

Selebritis: Life is beautiful. Jika kesuksesan sudah dalam genggaman, kita akan tahu bagaimana harus bertahan. By the way, seperti seorang petinju yang sudah meng-K.O lawan di ronde-ronde terakhir. So, make it real dalam hidup kita.

Wartawan (berbisik): Sebetulnya dia mau ngomong apa sich?!

______________________________________________________________

Seorang penyiar radio yang cukup banyak penggemarnya dikunjungi oleh salah satu pendengar setianya. Dengan wajah penuh senyum , penyiar itu menyapa pendengar setianya itu. Namun, si pendengar masih diam terpaku, hingga si penyiar mulai menyapanya.

Penyiar: Wah, saya nggak menduga Anda datang juga walau rumahmu jauh sekali.

Pendengar setia: Hmmm, jangan khawatir Mas. Saya pun nggak menduga sosok Mas ternyata tak seberat suara Mas

______________________________________________________________

Saat dipuncak kejayaan, Adolf Hitler ditanya oleh wartawan karena kesuksesannya di bidang politik yang begitu memukau.

Wartawan: Tuan Hitler, apa sebetulnya kiat Anda sehingga punya dukungan politik yang begitu besar?

Hitler: Pertama, menampung aspirasi rakyat dan pintar omong!

Wartawan: Maksud Anda, Tuan?

Hitler: Dengan kita pintar omong, rakyat terhibur dengan kata-kata kita dan terbuai.

Wartawan: Lalu apa lagi?

Hitler: Kumis yang imut!

Hello, gimana? lucu nggak? saya kira nggak lucu-lucu amat bahkan banyak yang menganggap tidak sama sekali, biasa wae. Tapi kalo dipikir lebih mendalam nich om, karena sang penulis termasuk orang yang suka bikin naskah skrip untuk drama di radio, mungkin saja cerita di atas jadi lucu bener kalo sudah dibikin matang bukan mentahan. Maksud saya, dibuat bahasa tutur bukan bahasa tulis. Perlu dua orang untuk mempraktekkan dan direkam suaranya sesuai intonasi, aksentuasi, dan artikulasi agar make it real (jiplak gaya seleb, hehe. .)

Sory kegedhean

Articles

Apa itu kreativitas?

In Opinion on April 20, 2011 by Lambang Tagged: ,

Setahu saya dari ‘tahunya orang lain’ mengenai apa itu kreativitas, bermula dari ‘tahunya orang lain’ itu yang di hubungkan dengan mitos. (Lho, apa yang dihubungkan?) Jadi yang di hubungkan disini adalah pengertian kreativitas dengan mitos yang ada. (O, memang anda ribet jadi narator)

Mitos 1.  Kreativitas adalah bentuk langka dari kejeniusan. Ya nggak lah, siapapun bisa jadi lebih imajinatif.

Mitos ½.  Kreativitas hanya dimiliki ilmu seni dan ilmu pengetahuan saja. Teeeeet! Salah! Semua hal yang terkait dengan manusia, ilmu pengetahuan, budaya, pekerjaan bisa menjadi lahan yang subur untuk menumbuhkan kreativitas.

Mitos ¼Kreativitas itu gampang. Nggak juga tuh. Setiap orang perlu energi, dan motivasi yang kuat untuk memproduksi ide-ide orisinal.

(source: www. closertotruth.com)

Mitos ¾.  → Menurutmu? Silahkan anda isi suka-suka.


Quotes

alam bawah sadar berkata

Sekian lama manusia terkurung oleh imajinasi meraih sesuatu yang sempurna atas persepsi dirinya. Menganggap salah apa yang dinilai orang dan berlagak menghargai karya orang lain. Cuek, sebuah kata yang cukup mewakili dibanding kepura-puraanmu selama ini. Aku, dia, dan mereka mempererat jalinan silaturahmi dengan kepalsuan hubungan. Tak ada yang tega mendahulukan kebenaran si jago jilat dalam menikmati rasa jujur, padahal hati mengidam-idamkan keadaan pahitnya empedu kata. Semoga kita semua tersadarkan oleh polah zaman manusia modern, otak digital, dan akhlak purba yang mengenalkan pada keanggunan sebuah dosa tiada bertakar, sehingga indrapun melumrahi tetangga baru yang berpatok kemerataan kebebasan ide sesat.

Aku bukanlah menyalahi aturanmu ya manusia pintar. Ku coba tidak menyerapmu lebih dalam lagi jika ku tak siap. Ku coba menjauhimu perlahan, menyadari langkah mana yang harus diambil dan mana yang harus terdiam sejenak. Tak bermaksud biadab beradab dengan memperhalus kelakuanku untuk menyisihkanmu. Ada saat-saat dimana keberadaan kita ditentang oleh diri sendiri dan didukung ketempat yang semestinya belum beranjak kesana. Mau apa di tempat seperti itu dimana engkau tak dapati kejernihan haqiqi sebongkah darah padat yang kau sebut qolbu sebagai kompas iman. Retak karena matinya haq. Retak hanya wujud bukannya pecah asal menyengsarakan perasaan dan pikiran memutuskan aliran keterkaitan ilahi.

Jika sudah ‘salah’, mau kau kemanakan ‘benar’?

Posted April 18, 2011 by Lambang

Articles

PPPK (Pertolongan Pertama Penyiar Kantuk)

In Broadcasting on March 21, 2011 by Lambang Tagged: , , , , , , ,

Berkomunikasi, memang mudah dan terkadang memang begitu terasa sulit. Lewat komunikasi pula manusia mengerti satu sama lain. Aktivitas yang satu ini memang tidak pernah mengenal istirahat, coba perhatikan, pernahkan sehari saja kita tidak mengeluarkan sepatah dua (patah) kata dari mulut kita? (kecuali anda merupakan orang yang pernah menjalani ritual pertapaan dalam hutan berhari-hari sendirian, ya mungkin ujung-ujungnya sumpah serapah keluar sehabis digigit nyamuk hutan segedhe bagong. halah) Seandainya itu bisa dilakukan secara kontinuitas, pastilah kita dapat menghemat pendapatan dosa dengan menjaga lidah dan mulut kita ini. Untuk kadar orang yang berpekerjaan normal (normal merapatkan mulut), contohlah kantoran bagian accounting atau apalah yang penting melototin komputer, sudah tidak betah untuk terus-terusan menahan ucap apabila datang kesempatan ingin bercengkrama yang tumben teman sekantor lewat lalu-lalang. Tentunya bisa di bayangkan orang yang punya hobi pemborosan kata (NB: cerewet) dengan pekerjaan yang sesuai hobi mereka = penyiar radio, saya yakin masih ada peluang untuk korupsi kalimat di tiap sela-sela mereka berbicara jika kesadaran muncul dan terealisasi. Kalau korupsi kata mah, saya yakin tidak masalah. Bahkan orang yang ada di sekeliling kita biasanya akan sedikit lega dengan mulai menipisnya polusi suara yang sering organ lidah ciptakan, hehe. Read More »

Articles

Life is easy if we don’t complain too much

In Event on March 9, 2011 by Lambang Tagged: , , , , , , , , , ,

Read More »

Articles

Putus hubungan karena beda keyakinan

In Event on February 18, 2011 by Lambang Tagged: , ,

|Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kejadian ini|

Cerita yang sering kita dengar dan lihat di sekitar bahkan telah membudaya, dua insan manusia di pertemukan dalam satu perasaan yang dinama ‘Mahabbah atau cinta’ tanpa memandang strata sosial hingga keyakinan dari kedua belah pihak. Ada yang berakhir happy ending dan ada pula yang berlanjut na’as makin suram. Apakah boleh keadaan seperti ini tetap bertahan? Berikut alur singkat cerita itu:

Disuatu pagi bermandikan panas sinar matahari tepat di ujung kepala, dua orang sahabat sedang duduk di atas pasir pantai. Mahasiswa tingkat akhir, bernama Ugalanus, yang sedang mencurahkan isi hatinya kepada sang sahabat, Cungkringus.

Read More »

Links

Menulis itu susah, seperti. .

In Up to me on February 1, 2011 by Lambang Tagged: , ,

Dulu saya berfikir jika kita bisa menelorkan ide-ide dalam otak dan di tuangkan dalam secarik kertas bahkan sampai mempostingkannya, maka akan terjadi seperempat keabadian. Lho, 1/4 doang? Sebab dengan telah menuliskannya membuat hal tersebut jadi bagian (agag) abadi, entah ada yang baca ataupun tidak, suatu saat akan ada makna tersendiri (yang bener?). Sayangnya, saat ini apa yang saya rasakan tentang menulis adalah seperti ini:

Read More »

Quotes

kepekikan yang memekik

Sedikit keluarlah kawan, kan kau dapati banyak ruas janji ke-agag-pastian
Segala keluh kesah akan kemelaratan tak ubahnya niat penguasa mencengkeram alur kehidupan
Ibu pertiwiku akan hancur oleh segala idealisme yang tak idealis
Tak ada yang mau berlomba mencapai puncak praktek non-profit di diri
Akankah paham-paham ikut tumbuh dengan sendirinya mengikuti nasib tak berimbang
Yang mengakar, menjamur, seolah-olah sudah terlahir tanpa berakhir
Menjadikan keborokan massal ini dianggap lumrah seluruh
Aku tak ingin ikut tapi aku mati atau aku harus ikut untuk bisa hidup
Bukan kepanikanku segera berakhir jika pilih memudar
Tapi meninggalkan bekas sisi buram melumpuhkan kejernihan masa depan terlahirnya generasi
Sudahlah, jangan kau anggap ini hanya drama sinetron yang selalu berakhir baik
dengan kemenangan seorang protagonis nyata
Sampai kau bingung, harus pilih diantara pahlawan yang mana
Seseorang di dalam gedung mirip kura-kurakah
Seorang wakilmu berbaju safari kantong empatkah
Orang diantara kebijakan penabur amal dan jasakah
Aku benar-benar di puncak kebinguangan sekarang kawan dengan harapan asa pahlawanmu itu
Baiklah kuputuskan
Aku saja pahlawanmu itu
Entah engkau mau tapi itu harus terjadi
Entah Ketidaksukaan merajalela merumput tidak lagi menjamur di tiap nadi tiap kepala
Sebab seperti dewa telah meninggalkan manusia sekarang
dan itu, manusia harus menjadi pahlawan
untuk dirinya yang tak sendiri juga orang yang tak lain
Pasrahku tak ubahnya Pasrahisme narapidana tervonis
Keliruku berpendapat menjadi Kelirumologi

Just the way I am starin’ at You, Indonesia

Posted January 26, 2011 by Lambang