Posts Tagged ‘Mas Lus’

Articles

Bahasa tutur, bahasa tulis, tetep beda

In Opinion on May 11, 2011 by Lambang Tagged: , , ,

Saya nulis ini sambil bersin-bersin ndak karuan, habis kehujanan sepulang nikahan di tempat temen (yang married temen ane, not me). Nah, di malam yang suram ini, yang besoknya masih UTS kampus & nggak niat belajar, kepikiran secara mendadak buat ngereview sebuah buku yang habis tak beli kemaren-kemaren seharga Rp. 5.000,- jatah diskon di acara bookfair di ponorogo. Awal mula ndak ada niatan sama sekali buat nge-beli buku, tapi ya mumpung disana coba belilah mumpung ada duit (Rp. 10.000 = bengsin 1 liter + 1 buku diskon, halah). Jelas banget to, saya ndak akan berani ngajak temen cewek dengan harta warisan segedhe githu. Makanya, tak pilih ngajak temen cowok kampus sesama pendatang dari luar kota senasib sepenanggungan yang mana jatah makan malam waktu itu kita kumpulkan dari kantong dompet bersama. Mengharukan.

Saya lanjutkan inti perbincangan kita om, mengenai review buku. Jadi gini, diantara serakan buku seharga 5 juta kurangi nol 3 itu mata saya terperanjat pada buku sampul biru depan belakang yang ada gambar mic-mic githu plus rambut cewek bediri kayak kena setrum atau lebih tepatnya setruk, nah, kuraba dia dan kubaca bagian belakang yang jelas menerangkan sang penulis. Tercantum Mas Lus, seorang penyiar dan music director at radio SK (suara kejayaan) 101,6 FM, sebagai pengarang tunggal sebuah buku berjudul ‘Kompilasi Humor Radio’. Kenapa saya tertarik dengan buku-buku berbau announcer? tak ada alasan lain selain harganya yang pas 5 ribuan tadi, juga murah meriah & agag berbobot (teeeet, beneran?). Isinya dibagi menjadi beberapa bagian cerita singkat, seperti ini:

Salah seorang selebritis yang sedang naik pamornya diwawancarai oleh salah satu media hiburan ibukota.

Wartawan: Sebagai seorang selebritis, apa sih kiat sukses Anda?

Selebritis: Well, saya try untuk disiplin. Because, it’s very important. So, buat saya that’s something special yang perlu dilakukan bagi seorang yang ingin sukses. Every morning, saya sport dan juga berusaha well information.

Wartawan: Lalu bagaimana Anda mempertahankan kesuksesan?

Selebritis: Life is beautiful. Jika kesuksesan sudah dalam genggaman, kita akan tahu bagaimana harus bertahan. By the way, seperti seorang petinju yang sudah meng-K.O lawan di ronde-ronde terakhir. So, make it real dalam hidup kita.

Wartawan (berbisik): Sebetulnya dia mau ngomong apa sich?!

______________________________________________________________

Seorang penyiar radio yang cukup banyak penggemarnya dikunjungi oleh salah satu pendengar setianya. Dengan wajah penuh senyum , penyiar itu menyapa pendengar setianya itu. Namun, si pendengar masih diam terpaku, hingga si penyiar mulai menyapanya.

Penyiar: Wah, saya nggak menduga Anda datang juga walau rumahmu jauh sekali.

Pendengar setia: Hmmm, jangan khawatir Mas. Saya pun nggak menduga sosok Mas ternyata tak seberat suara Mas

______________________________________________________________

Saat dipuncak kejayaan, Adolf Hitler ditanya oleh wartawan karena kesuksesannya di bidang politik yang begitu memukau.

Wartawan: Tuan Hitler, apa sebetulnya kiat Anda sehingga punya dukungan politik yang begitu besar?

Hitler: Pertama, menampung aspirasi rakyat dan pintar omong!

Wartawan: Maksud Anda, Tuan?

Hitler: Dengan kita pintar omong, rakyat terhibur dengan kata-kata kita dan terbuai.

Wartawan: Lalu apa lagi?

Hitler: Kumis yang imut!

Hello, gimana? lucu nggak? saya kira nggak lucu-lucu amat bahkan banyak yang menganggap tidak sama sekali, biasa wae. Tapi kalo dipikir lebih mendalam nich om, karena sang penulis termasuk orang yang suka bikin naskah skrip untuk drama di radio, mungkin saja cerita di atas jadi lucu bener kalo sudah dibikin matang bukan mentahan. Maksud saya, dibuat bahasa tutur bukan bahasa tulis. Perlu dua orang untuk mempraktekkan dan direkam suaranya sesuai intonasi, aksentuasi, dan artikulasi agar make it real (jiplak gaya seleb, hehe. .)

Sory kegedhean

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.