
Buku “The Kampus” (ngakak sampai mampuss!)
Hidup tu ndak selamanya serius, dan juga ndak selamanya harus santai. Ada penyeimbang untuk keduanya agar kita bisa ini mengatakan bahwa: “Inilah dunia dan segala permasalahannya, kalau saja kita hidup tanpa ada masalah, saya khawatir, jangan-jangan kita tidak berada di dunia kawan!”. Lalu apa? Embuh.
Moment serius pun tiba, dimana tugas kampus yang semakin banyak, dosen yang kurang pengertian (saya bilang resek) sebab saya termasuk mahasiswa yang tak tau diri. Dan di saat ini pula saya menemukan sebuah buku tipis yang cukup lucu untuk dibaca. Tak hanya lucu, tapi ini rumayan menghibur dengan guyonan cerdas dikalangan kaum yang punya predikat “Tukang Demo” di dunia pendidikan. Seperti inilah artikel singkat itu: (Jeng jeng jeng) Read the rest of this entry
Sekilas tentang “Radio C Madiun”, apa’an tuh?
Sebenarnya hal ini bisa dikatakan promo, kalo launching ya bukan, masalahnya bukan media audio yang baru untuk masyarakat karesidenan Madiun (We call by Kota Gadis – Perdagangan dan industri). Ya tak apalah, sebab pengen aja nulis sesuatu yang berkaitan tentang tempat kerja part-time saya sekarang.
Radio C Madiun, dalam hati atau pikiran kamu pasti ada yang bertanya-tanya, apa ini? nggak to, kalo nggak berarti saya salah tebak. Atau mungkin mempermasalahkan peletakan nama radio tersebut. Kenapa nggak C Radio aja ketimbang Radio C? Enakan dengernya C Radio dech, semisal radio yang ada di ibukota sana dengan tag-line “100% musik indonesia”, yakni I Radio ato radio miliknya ardan manajement, yakni B Radio. Kalau masalah penamaan mah saya nggak bisa ikut campur. Itu urusan Owner ato sesepuh radio ini dulu gimana. Ya ya ya, serumit itukah fikiran kalian mempermasalahkan itu, saya yakin juga tidak. Cuman saya aja yang heboh. Doh.
Radio ini merupakan radio kedua setelah saya resign dari radio yang ada di kampus dengan perbedaan yang sangat mencolok mulai dari tempat kerja saya dahulu yang masih menjadi komunitas beralih ke tempat yang sudah komersil sejak orok. Pressure pun tambah dan segalannya juga ngikut tambah (hanya saja mukaku kok nggak tambah gantengan ya, dikit aja masa’ pelit, halah). Memang di tempat kerja sekarang membuat saya lebih improve skill & time manajement yang pas agar tidak mengganggu jadwal perkuliahan. Alhamdulillah, seluruh crew baek-baek, jadi care ke anggota lain yang masih sekolah.
Bertempatkan di Jl. Cemara no. 216 Sangen Madiun. Masih bingung? ya tepatnya selatan pas pengisian bengsin di daerah sangen atau kalau bener-bener kurang jelas, tanyalah pada orang yang kamu percaya dan tau dimana radio ini berada kawan. Sebelum “Radio C“, nama di udara adalah “Radio Cemara” dan sebab perubahan nama tersebut akhirnya merubah segala yang ada disini, mulai dari format radio, genre lagu yang mulai mengadaptasi Manca & Domestik, dan target kalangan pendengar menengah ke atas.
Apalagi ya, ya ini dulu aja. Ternyata saya nggak pandai mendiskripsikan sesuatu. Susah banget. Langsung chekidot gambarnya aja Dap.
Ya beginilah keadaan studio saya sekarang. (Lho kok ada bantal segala?) Sebab diantara barang elektronik di studio, hanya bantal-lah yang mengerti saya banget. Bantal di radio tu sesuatu banget. Saya sangat sayang dia. Dia faham kalo kita (crew) lagi capek ato rebahan. Dia-lah yang pengertian, tak tergantikan. hehe.
Hadapi dengan senyuman
Belajar untuk membuat orang lain merasa bahagia dengan kehadiran kita memang terkadang menyenangkan dan memilukan. Menyenangkan jika rencana kita untuk membuat orang lain tersebut tersenyum berhasil tanpa harus ada imbalan materi, sebab kepuasan batin sudah cukup kita dapat sebagai imbalan yang pas. Memilukan jikalau dengan sekuat tenaga dan fikiran kita curahkan untuk membuat orang di sekitar kita bisa tersenyum bahagia, ternyata hasilnya tidak, kita gagal melakukannya, sungguh serasa hari itu bagaikan hari akhir kita hidup sebagai manusia. Pengen segera kiamat aja. Pilu.
Ya begitulah, tersenyum, bagi orang yang kurang terbiasa melakukannya memang sangat susah. Jika kamu termasuk orang yang sudah punya kebiasaan “nyengar-nyengir sendiri” bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan kamu dengan kata lain, sehari nggak senyum. . apakata dunia! such there’s a missing part, maka beruntunglah kamu. Seperti kata guru ngaji bilang gini: (once upon a time) SANTRIKU. . Senyum adalah ibadah. . maka tersenyumlah. .” Dan di hari itu juga sehabis denger kata pak kyai sejumlah anak pondok pun mengupayakan menarik keatas tepi bibirnya dan menunjukkan gigi putih kekuningan mereka biar bisa senyum seindah mungkin karena pengen dapet pahala, khan ibadah bray. Alhasil, mereka bisa melakukan himbauan sesepuh di hari tersebut. Esok harinya lagi, paling udah lupa apa kata pak kyai. Doh.
Sore ini gara-gara sebuah foto (tiba-tiba jatuh dari langit – Gedubrax! – Ngayal abis) yang saya dapat sewaktu surfing, saya jadi kepengen bisa senyum selebar-lebarnya dan seluas-luasnya agar orang lain tau, saya bisa senyum. Halah. Sebab susahnya minta ampun untuk senyum sewaktu sedang marahan Gan.
Dan ini fotonya (teteteeeeeeeeet!):

|Mungkin lagi teringat lagunya dewa19 yang judulnya "hadapi dengan senyuman", dalam mengamankan sebuah unjuk rasa (maaf, apasih.com gak tau dimana dan kapan), dan terlihat situasi sedang genting2nya.. disaat itu pula terlihat seorang warga sedang mengacung-acungkan goloknya kepada seorang anggota polisi, bukannya menghindar. pak polisi ini malah membalasnya dengan senyuman... kereeeen pak. tak selamanya kekerasan dibalas kekerasan| itulah sepenggal kalimat yang menerangkan foto ini.
Alhamdulillah, ramadhan tiba.
Banyak manusia menemukan jalan hidupnya pada keterkaitan yang tak terkira, dengan berusaha menjadi sesuatu yang terbaik pada setiap tingkah laku dan tutur kata. Ramadhan kali sungguh indah, diisi oleh sanubari setiap insan untuk sepenuhnya melaksanakan ibadah yang di ridho’i di jalan Allah. Indahnya ramadhan bersama orang-orang tercinta, indahnya ramadhan dengan perasaan sabar menahan segala goda’an keduniawian, sebulan saja sudah cukup menjernihkan atas apa yang kita perbuat berupa kesalahan-kesalahan yang lalu. Apakah bakal kita sadari, mana yang sengaja maupun tidak disengaja kita lakukan dan telah bernilai dosa. Kita tak pernah mengetahui sejatinya itu. Hampir sama dengan pahala yang kita punya. Selama masih melaksanakan tanggung jawab untuk hidup di dunia, hasil amal tersebut tidak akan pernah di ketahui manusia secuilpun sampai ajal menjemput.
Anugerah terindah dan patut untuk di syukuri saat ini adalah dapat merasakan datangnya bulan ramadhan kali ini, ada penantian panjang manusia untuk sampai ke tahap seperti yang kita rasakan sekarang dan dengan perasaan yang berbeda-beda pula. Ada yang senang sewaktu menanti bulan ramadhan ini hingga memasukinya, ada yang biasa saja karena tidak merubah apapun, yang sukanya makan ya tetap bisa makan sebab memang tidak ada keinginan untuk berpuasa, yang sukanya gosip tetap aja rasan-rasan (membicarakan perihal orang lain), yang sukanya melihat aurat wanita yang bukan muhrim, masih saja belum menjaga pandangan ketika ada akhwat yang lewat di depan ikhwan sekalian. Ya memang bukan salah kaum lelaki sepenuhnya juga, banyak sekali wanita yang masih mengenakan pakaian serba minim bahan sehingga terdapat lekukan dan juga secuil bagian tubuh yang bisa dilihat orang lain. Dan masih banyak lagi macamnya apa yang di rasakan manusia mengenai datangnya bulan suci ramadhan.
Sebagai manusia yang biasa saja di mata orang lain dan Allah SWT (menurut aqli sendiri), saya hanya menerapkan satu amalan di bulan puasa yang disini dengan menahan lapar dari mulai terbit fajar hingga terbenam. Kandungan sejati berpuasa belum saya laksanakan dan terapkan dalam kehidupan, mulai apa sebenarnya makna puasa yang kita jalankan, menjaga pandangan kepada yang bukan muhrim (saya termasuk cowok yang jelalatan kalau lihat yang bening-bening, hadewh), menjaga perkataan untuk tidak membicarakan aib seseorang dan perkataan lain yang tak terkontrol ataupun kurang sopan, tingkah laku yang sak karepe dewe, kadang sedikit-dikit masih suka bohong demi menjaga kerahasiaan sesuatu. Ya begitulah, perasaan untuk terus intropeksi diri seakan wajib ada selama masih menginjakkan kaki di atas bumi-Nya.

saya (tukang sapu ijuk karbitan) bersama temen KPM & ustad wahyu sehabis bersih-bersih di masjid islamic centre slahung
Untuk ubudiyah di ramadhan kali ini terasa belum ada peningkatan, masih saja jarang nderes qur’an, sampai saat ini belum menyentuh air wudlu untuk menjalankan sholat tahajud, apalagi sholat dhuha yang selama ini saya planning ternyata bisa dihitung berapa kali saya lakukan. Intropeksi diri yang panjang dalam daftar kebaikan yang tak terlaksana, hehe. Yang jelas, walau banyak kekurangan diri saya dalam menjalankan ibadah dibulan suci ini, saya anggap ramadhan kali ini adalah ramadhan yang penuh berkah dan menarik daripada ramadhan-ramadhan sebelumnya dimana saya beserta beberapa teman seakademisi di kampus melaksanakan kegiatan KPM (Kuliah Pengabdian Masyarakat) yang sedikit berbeda versi dengan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di salah satu desa di ponorogo dan merasa dekat dengan seseorang untuk bertukar fikiran mengenai pengalaman hidup juga harapan (Aneh, bukannya deket sama Tuhan malah makhluknya. Heleh). Berusaha mencari apa makna yang terkandung setiap kali memasuki bulan suci ini dan terus menggali segala kebajikan yang dapat di laksanakan ditiap detik peristiwa. Semoga kita semua, kaum muslimin & muslimat, mendapat keberkahan menjalani puasa di bulan ramadhan yang penuh rahmat dan maghfirohnya.
I Don’t Know!
Hari ini tepat di hari senin 25 juli 2011, dan saya terbangun untuk kesekian kali merasakan udara yang dingin di kawasan madiun selatan. Bangun tak setepat adzan parau tua tetangga saya di mushola, sebagai anak muda yang kalah cekatan dengan generasi terdahulunya. Ya begitulah, bertambahnya umur tak menjadi alasan bagi orang seperti ini untuk segera merubah pola pikir dan pola ujar.
Blog abal-abal ini, lebih spesifik lagi di katakan sebagai blog diary yang sudah 3 tahun saya miliki tapi perkembangan dari sang penulis masih sama seperti semula dia melahirkannya. Saya katakan sekali lagi memang menulis itu susah, belum ada idelah, waktu senggang abislah, jadwal kuliah dan part-time yang tanpa liburlah, dan –lah –lah –lah lainnya. Selalu alasan yang sama untuk tidak nge-blog. Satu lagi, giliran waktu lenggang tiba, sudah siap untuk menuangkan ide (dalam artian, masih mencari) eh, hasrat untuk menge-klik wordpress log in teralihkan ke file yang bertuliskan Need for speed hot pursuit & Crysis 2 (halah). Gamer sejati takkan pernah mati, maksudnya tau cari cara lain untuk bisa nge-game walau listrik mati & etc.
Hari-hari setelah ujian akhir semester ku lalui bersama dengan game yang barusan terinstall, sebangsa Call of duty: Black Ops, Sniper Art of victory, Need for speer Shift 2 unleashed. Sengaja dipersiapkan agar bisa merasakan kembali masa muda tapi tak melupakan umur pertanda telah hadir masa tua, sebab setelah ini harus bertempur dengan KKN yang bakal hadir di bulan puasa dan PPL II untuk praktek mengajar di sekolah dan kesemuannya itu mengingatkan saya bahwa “Oh iya, ternyata jurusan yang saya ambil adalah calon guru, terus kemana jiwa mengajar saya, kok belum muncul-muncul, apa gara-gara sudah tau kesejahteraan seorang guru itu sedikit, ataukah sudah berfikir profit oriented lain, sungguh jiwa yang bimbang!”. Ya begitulah Bray, salah satu yang menjadi tanda tanya besar saya adalah mengenai kesejahteraan guru indonesia yang terabaikan apalagi seorang guru sukuan, betapa besar jiwa kesabaran yang dipupuk menunggu masa sertifikasi itu tiba. Trus, sebenarnya kamu pengen nulis tentang game atau kritisasi guru sich Mbang? Haha. Nggak tau juga mau nulis apa disini. Hanya membiarkan jari-jemari terus mengetik kata-kata yang mulai terjejer di otak saya. Dan setelah ini, ketikanpun berakhir tanpa topik yang jelas.
Memanfaatkan kamera hape, itu aja.

Foto ini diambil saat saya mengikuti perkuliahan di salah satu ruangan kampus. Ternyata anggapan selama ini benar, bahwa tempat yang paling nyaman untuk rehat dan tidur siang adalah kelas. Gimana tidak, gaya ceramah dosen yang (sebagian) luar biasa itu (mempertahankan metode lama) bak suara lembut musik jazz membawa penikmatnya benar-benar serasa dinina bobo’kan. Saya menganggap tulisan diatas merupakan wujud dari curahan isi hati sekaligus kepuasan atas jasa yang di berikan dosen kepada mahasiswa yang merasa kantuk tak tertahankan, mengambil inisiatif untuk mengambil stepo (penghampus tinta hitam) dan mengabadikan moment tersebut dengan menulis di kursi depannya. Apakah anda salah satu yang pernah merasakan: “Dosen koe pengantar tidor?”

Apa maksud yang tersirat dari foto tersebut? Tak ada, cuman saja selagi kita menunggu dosen datang, kutemukan kardus garbage (tempat pembuangan sampah) yang bertuliskan dua kata itu, kusandingkan dengan temen yang sedang merokok sampil pencet hape. Alhasil, mereka berdua sangat serasi. Cie cie cie. .

Jangan taruh kunci motor sembarangan. Cukup jelas maksudnya.
Thinking
Kebingungan yang muncul setelah sekian lama menjadi seorang mahasiswa, loncat sana loncat sini bagai kutu kehilangan sarang ternyaman dengan berbagai ideologi yang masuk kedalam otak. Semakin lama belajar bukannya bertambah pintar malah membingungkan setiap orang yang meminta opini bahkan sampai hati tak merasakan penyesatan yang telah dilontarkan. Apakah kita sudah menjadi bagian dari orang-orang yang mengagungkan akal fikiran tanpa memperdulikan sesuatu yang jauh mudah diterima hati nurani? Qolbu tak lagi mendampingi otak dalam memutuskan masalah maupun membuat keputusan terjernih. Semua dianggap enteng tanpa memerlukan sumber lain sebagai pembanding. Sudah terbilang cukup anak bangsa yang terlahir tak lagi dengan kebanggaan ‘Inilah prestasi saya’ tapi ‘Inilah fanatik saya’ membenarkan golongan menyalahkan keadaan keluarga yang jelas-jelas percaya apa yang dipelajari baik. Bukan ilmu meninggikan kelompok yang didampa orang tua, cukuplah menjadi dan pengamalan di atas panggung pengalaman yang menjadi patokan untuk melangkah lebih jauh.
Jika bumi terus berotasi melakukan kewajiban mutlak dan manusia terus berorasi menuntuk hak asasi telak, semua akan melihat titik temu antara Yin dan Yang sebagai contoh inilah apa yang kita lihat, apa yang kita ketahui, apa yang kita mengerti, tapi bukan apa yang selanjutnya dilakukan agar keselarasan hidup antara hunian dan penghuni tetap berbagi.
Thinking
Bahasa tutur, bahasa tulis, tetep beda
Saya nulis ini sambil bersin-bersin ndak karuan, habis kehujanan sepulang nikahan di tempat temen (yang married temen ane, not me). Nah, di malam yang suram ini, yang besoknya masih UTS kampus & nggak niat belajar, kepikiran secara mendadak buat ngereview sebuah buku yang habis tak beli kemaren-kemaren seharga Rp. 5.000,- jatah diskon di acara bookfair di ponorogo. Awal mula ndak ada niatan sama sekali buat nge-beli buku, tapi ya mumpung disana coba belilah mumpung ada duit (Rp. 10.000 = bengsin 1 liter + 1 buku diskon, halah). Jelas banget to, saya ndak akan berani ngajak temen cewek dengan harta warisan segedhe githu. Makanya, tak pilih ngajak temen cowok kampus sesama pendatang dari luar kota senasib sepenanggungan yang mana jatah makan malam waktu itu kita kumpulkan dari kantong dompet bersama. Mengharukan.
Saya lanjutkan inti perbincangan kita om, mengenai review buku. Jadi gini, diantara serakan buku seharga 5 juta kurangi nol 3 itu mata saya terperanjat pada buku sampul biru depan belakang yang ada gambar mic-mic githu plus rambut cewek bediri kayak kena setrum atau lebih tepatnya setruk, nah, kuraba dia dan kubaca bagian belakang yang jelas menerangkan sang penulis. Tercantum Mas Lus, seorang penyiar dan music director at radio SK (suara kejayaan) 101,6 FM, sebagai pengarang tunggal sebuah buku berjudul ‘Kompilasi Humor Radio’. Kenapa saya tertarik dengan buku-buku berbau announcer? tak ada alasan lain selain harganya yang pas 5 ribuan tadi, juga murah meriah & agag berbobot (teeeet, beneran?). Isinya dibagi menjadi beberapa bagian cerita singkat, seperti ini:
Salah seorang selebritis yang sedang naik pamornya diwawancarai oleh salah satu media hiburan ibukota.
Wartawan: Sebagai seorang selebritis, apa sih kiat sukses Anda?
Selebritis: Well, saya try untuk disiplin. Because, it’s very important. So, buat saya that’s something special yang perlu dilakukan bagi seorang yang ingin sukses. Every morning, saya sport dan juga berusaha well information.
Wartawan: Lalu bagaimana Anda mempertahankan kesuksesan?
Selebritis: Life is beautiful. Jika kesuksesan sudah dalam genggaman, kita akan tahu bagaimana harus bertahan. By the way, seperti seorang petinju yang sudah meng-K.O lawan di ronde-ronde terakhir. So, make it real dalam hidup kita.
Wartawan (berbisik): Sebetulnya dia mau ngomong apa sich?!
______________________________________________________________
Seorang penyiar radio yang cukup banyak penggemarnya dikunjungi oleh salah satu pendengar setianya. Dengan wajah penuh senyum , penyiar itu menyapa pendengar setianya itu. Namun, si pendengar masih diam terpaku, hingga si penyiar mulai menyapanya.
Penyiar: Wah, saya nggak menduga Anda datang juga walau rumahmu jauh sekali.
Pendengar setia: Hmmm, jangan khawatir Mas. Saya pun nggak menduga sosok Mas ternyata tak seberat suara Mas
______________________________________________________________
Saat dipuncak kejayaan, Adolf Hitler ditanya oleh wartawan karena kesuksesannya di bidang politik yang begitu memukau.
Wartawan: Tuan Hitler, apa sebetulnya kiat Anda sehingga punya dukungan politik yang begitu besar?
Hitler: Pertama, menampung aspirasi rakyat dan pintar omong!
Wartawan: Maksud Anda, Tuan?
Hitler: Dengan kita pintar omong, rakyat terhibur dengan kata-kata kita dan terbuai.
Wartawan: Lalu apa lagi?
Hitler: Kumis yang imut!
Hello, gimana? lucu nggak? saya kira nggak lucu-lucu amat bahkan banyak yang menganggap tidak sama sekali, biasa wae. Tapi kalo dipikir lebih mendalam nich om, karena sang penulis termasuk orang yang suka bikin naskah skrip untuk drama di radio, mungkin saja cerita di atas jadi lucu bener kalo sudah dibikin matang bukan mentahan. Maksud saya, dibuat bahasa tutur bukan bahasa tulis. Perlu dua orang untuk mempraktekkan dan direkam suaranya sesuai intonasi, aksentuasi, dan artikulasi agar make it real (jiplak gaya seleb, hehe. .)

Sory kegedhean
Apa itu kreativitas?
Setahu saya dari ‘tahunya orang lain’ mengenai apa itu kreativitas, bermula dari ‘tahunya orang lain’ itu yang di hubungkan dengan mitos. (Lho, apa yang dihubungkan?) Jadi yang di hubungkan disini adalah pengertian kreativitas dengan mitos yang ada. (O, memang anda ribet jadi narator)
Mitos 1. Kreativitas adalah bentuk langka dari kejeniusan. Ya nggak lah, siapapun bisa jadi lebih imajinatif.
Mitos ½. Kreativitas hanya dimiliki ilmu seni dan ilmu pengetahuan saja. Teeeeet! Salah! Semua hal yang terkait dengan manusia, ilmu pengetahuan, budaya, pekerjaan bisa menjadi lahan yang subur untuk menumbuhkan kreativitas.
Mitos ¼. Kreativitas itu gampang. Nggak juga tuh. Setiap orang perlu energi, dan motivasi yang kuat untuk memproduksi ide-ide orisinal.
(source: www. closertotruth.com)
Mitos ¾. → Menurutmu? Silahkan anda isi suka-suka.














